Kepala Daerah

Bupati : Drs. H. Muslimin Bando, M.Pd
Wakil Bupati : Drs. H. M. Amiruddin, SH
Sekda : Drs. H. Chairul Latanro, MM

Kalender
June 2017
M T W T F S S
« May    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
Statistik Pengunjung
Hari ini : Thursday, 29 June 2017 00:00
Pengunjung hari ini : 14
Pengunjung kemaren : 73
Halaman dikunjungi hari ini : 86
Sistem Operasi :
Browser :
IP : 54.196.117.47
Pengunjung online : 0
Admin online: 0

Enrekang Catat Produksi Bawang Merah Tertinggi di Indonesia

Kabupaten Enrekang menjadi menjadi daerah penghasil bawang merah tertinggi di Indonesia pada median Maret dan April 2017.  Data ini berdasarkan perhitungan dari Kementerian Pertanian.

Enrekang menjadi yang tertinggi dengan jumlah produksi 400 ton. Enrekang yang selama ini selalu berada di posisi ketiga atau empat naik menjadi yang pertama dikarenakan sentra bawang terbesar di Indonesia yakni Bima NTB dan Brebes Jawa tengah produksinya sedang turun. 

Selain karena alasan petani bawang di beberapa daerah itu beralih menanam padi karena musibah banjir yang melanda lahan.

“Enrekang telah diperhitungkan di kancah nasional terkait produksi bawangnya,” ujar Bupati Enrekang Muslimin Bando, Rabu (19/4/2017).

Selain itu, produksi bawang Enrekang melonjak tinggi karena lahan bawang Enrekang semakin meluas yang sebelumnya hanya dua kecamatan kini merata ke-12 kecamatan. 

Kadis Pertanian Enrekang Arsil Bagenda mengatakan, meski Enrekang produksinya terbesar di Indonesia, namun belum mampu memenuhi stok kebutuhan baawang di seluruh Indonesia.

“Hanya memenuhi kebutuhan Indonesia Timur. Kalau Jawa masih mengharap pada berbagai daerah pengahasil bawang di Jawa yang produksinya sedikit. Kita berharap bawang merah Enrekang produksinya terus bertambah,” kata Arsil.

Arsil menambahkan, produksi bawang Enrekang tidak akan berkurang nanti saat memasuki bulan Ramadhan karena sebagian besar lahan di Enrekang masih dalam masa tanam

ENREKANG OPTIMIS JADI TUAN RUMAH FESTIVAL BAWANG MERAH TINGKAT NASIONAL

Ketua Asosiasi bawang merah Kabupaten Enrekang, H. Djajadi Silamma, memberi apresiasi atas penunjukan Bumi Massenrempulu, sebagai tuan rumah gelaran Festival Bawang Merah Tingkat Nasional.
 
” Festival Bawang Merah Tingkat Nasional rencananya akan digelar di Kabupaten Enrekang Propinsi Sulawesi-Selatan pada Oktober 2017 mendatang, kegiatan ini akan mempertemukan seluruh perwakilan petani bawang unggulan dari sentra-sentra produksi bawang merah di seluruh Indonesia,” kata H. Djajadi.S menanggapi terpilihnya Enrekang sebagai pelaksana festival, di Enrekang, Rabu (12/4). Dalam hal ini, Bank Indonesia (BI) yang menginisiasi festival tersebut,
 
Menurutnya, terpilihnya Enrekang sebagai tuan rumah festival tidak terlepas dari keberhasilan bidang pertanian, utamanya produksi petani bawang merah yang mencapai 6.000 ton, dengan lahan pertanian yang tersebar di Kabupaten Enrekang seluas 8.500 hektare.
 
 “Petani bawang kita dalam per hektarenya menghasilkan 10 ton. Sedangkan luas lahan pertanian bawang merah kita 8.500 hektare,” kata H. Djajadi.S. menambahkan.
 
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Enrekang, Arsil Bagenda mengatakan, saat ini mulai menggodok dan merancang gelaran Festival Bawang Merah Tingkat Nasional yang akan dilaksanakan di Enrekang sehingga nantinya bisa sukses sebagai penyelenggara dan sukses sebagai tuan rumah,
 
” kegiatan ini akan menjadi momen penting memperkenalkan Kabupaten Enrekang sebagai salah satu sentra pertanian di kawasan Indonesia Timur, terutama pada beberapa produksi unggulan pertanian, tidak hanya sebagai sentra bawang merah, tetapi juga penghasil cabe, tomat, kopi dan sejumlah komoditas holtikultura lainnya,” tutup Arsil Bagenda. (McEnrekang.L)     

PERTANIAN SEHAT BAWANG MERAH DENGAN CEBEK

Bupati Enrekang sangat mengapresiasi rintisan pertanian Sehat pada komoditas Bawang Merah, hal ini disebabkan karena produk yang di gunakan adalah pupuk cair Kencing Kambing (Cebek) ramah lingkungan.

Ini merupakan produk pendampingan Kelompok Buntu Toding Bontongan. Dari evaluasi sementara penurunan biaya produksi 30%, dan total produksi meningkat 10% dari rata-rata pada umumnya.