Kepala Daerah

Bupati : Drs. H. Muslimin Bando, M.Pd
Wakil Bupati : Drs. H. M. Amiruddin, SH
Sekda : Drs. H. Chairul Latanro, MM

Goverment Public Relation
Kalender
August 2017
M T W T F S S
« May    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
Statistik Pengunjung
Hari ini : Monday, 21 August 2017 00:00
Pengunjung hari ini : 89
Pengunjung kemaren : 76
Halaman dikunjungi hari ini : 376
Sistem Operasi :
Browser :
IP : 54.166.168.243
Pengunjung online : 0
Admin online: 0

Empat Sekda dari Jawa Belajar Pengembangan Bawang Merah di Enrekang

Enrekang -Wakil Bupati Enrekang, HM Amiruddin, menerima rombongan dari Bank Indonesia (BI) dan Sekda dari empat kabupaten di Pulau Jawa Rabu (17/5/2017). Pertemuan ini dalam rangka sharing informasi program kerjasama pengembangan klaster pemicu inflasi daerah (klaster bawang merah).

Rombongan yang terdiri dari Kepala BI PTW Kabupaten Purwokerto, Ramdan Deni Prakoso; Manager BI, Purwokerto Joko Juniwarto; Sekda Kabupaten Banjarnegara, Fakhruddin Slamet Susiadi; Sekda Banyumas, Wahyu Budiman; Sekda Cilacap, Sutarjo; Sekda Kabupaten Purbalingga yang diwakili oleh Kadis Pertanian, Lily Purwati; dan beberapa Kabiro dari BI.

Kunjungan mereka dalam rangka meninjau klaster bawang merah di Marena, Desa Pekalobean, Kecamatan Anggeraja, dan cabai rawit di Kecamatan Curio binaan Bank Indonesia (BI) Makassar.

Kabid Holtikultura Kabupaten Enrekang, Additional, mengatakan, kunjungan tersebut semacam study banding untuk melihat perkembangan bawang merah dan cabai. Pasalnya, Enrekang masuk urutan ke empat dari kabupaten penghasil bawang merah di Indonesia.

“Enrekang masuk urutan keempat setelah Brebes, Bima, dan Nganjuk kemudian Probolinggo. Produksi bawang merah kita tahun 2016 sebanyak 8.500 ton dengan lahan tanam 8.500 hektar. Harga bawang merah pada saat itu rata-rata 20 ribu/kg berarti nilainya Rp 1,7 triliun,” kata Addi.

Ditempat yang sama, Wakil Bupati HM Amiruddin, mengatakan, kunjungan ini adalah hal yg bangus. Minimal bisa sharing untuk saling memberikan informasi.

Menciptakan strategi agar kita sebagai pemasok bawang merah tidak dipermainkan oleh para tengkulak.

“Saling berkomunikasi mengambil langkah stratengi agar petani tidak dirugikan. Kebetulan yang hadir adalah penghasil bawang merah sehingga kita bisa melahirkan ide-ide yang bisa menghidupkan petani,” kata Amiruddin.

Amiruddin menambahkan, harus ada langkah-langkah yang lebih strategis dan melibatkan semua orang yang berkaitan dengan kesejahteraan petani bawang. Permasalahan utama adalah terjadinya fluktuasi harga sistem distribusi yang seharusnya.

“Jika produksi bawang kita melimpah, jangan ada import bawang merah. Harus mengatur jadwal tanam untuk mencegah harga bawang tidak anjlok secara drastis,” tutup Amiruddin.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *